JAWA BARAT — Months before the World Cup, tuntutan agar Jude Bellingham tidak dibawa ke turnamen puncak justru menguat. Sebuah artikel di Daily Mail pada November 2025 bahkan memuat judul paling memalukan dalam sejarah sepak bola Inggris: "Leave Jude at Home." Ini adalah puncak dari antipati yang membuntuti gelandang Real Madrid itu sejak kemunculannya di panggung internasional.
Ian Wright Buka Luka: Ada Sejarah Panjang di Balik Kritik ke Bellingham
Legenda Arsenal Ian Wright angkat bicara di podcast Stick to Football. Ucapannya menyebar cepat karena ia menempatkan serangan terhadap Bellingham dalam konteks historis pengawasan terhadap pria kulit hitam. "Seseorang seperti Jude, entah kenapa, menakuti orang-orang ini," kata Wright. "Itu sesuatu yang diajarkan padamu sebagai pria kulit hitam… untuk menundukkan kepala dan menjadi, maaf, budak yang rendah hati."
Wright menyebut Bellingham tidak menunjukkan rasa insecure yang biasa menghantui pemain Inggris di luar negeri. Kepercayaan diri itu, menurut penulis Calum Jacobs dalam artikel di The Guardian, adalah warisan budaya yang akrab bagi banyak warga kulit hitam Inggris—sebuah postur yang dibaca sebagai ancaman oleh sebagian publik.
Tiga "Dosa" Bellingham yang Membuatnya Tak Bisa Dimaafkan
Jacobs merinci tiga alasan sepak bola mengapa Bellingham bertabrakan dengan tatanan mapan sepak bola Inggris. Pertama, Birmingham City memensiunkan nomor punggungnya sebelum ia berusia 18 tahun. Kedua, ia menolak klub elite Inggris dan memilih Borussia Dortmund. Ketiga, Real Madrid membayar €103 juta untuknya dan memberikan nomor 5 milik Zinedine Zidane.
Kesuksesan Bellingham di Madrid tidak pernah dirayakan sebagai kebanggaan Inggris. Sebaliknya, itu dibaca sebagai tantangan tersirat terhadap klaim Premier League sebagai puncak sepak bola dunia. Ia dipantulkan kembali ke Inggris sebagai milik dunia luas, bukan milik mereka.
Pemain Kulit Hitam Pertama yang Jadi Fokus Identifikasi Nasional
Inggris telah lama memiliki pemain kulit hitam hebat. Namun John Barnes dikecualikan dari status "greatness" Inggris, Andrew Cole dibayangi Alan Shearer, dan Raheem Sterling mendapat permusuhan berkelanjutan. Belum pernah tim nasional menyatakan bahwa figur penentunya adalah seorang kulit hitam—sampai sekarang.
Hey Jude yang dinyanyikan spontan setelah kemenangan Inggris menjadi bukti: nama, fitur, dan warisan Bellingham tidak lagi menjadi penghalang identifikasi Inggris yang naluriah. "Ia jelas tidak melihat kontradiksi antara menjadi kulit hitam dan menjadi orang Inggris," tulis Jacobs. "Mungkin signifikansi terbesarnya adalah menunjukkan kepada mereka yang datang setelahnya bahwa mereka juga tidak perlu melihatnya."