JAWA BARAT — Berdasarkan data Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) Kementerian Perhubungan, penjualan motor listrik pada 2025 tercatat 55.059 unit. Angka ini masih jauh dari target ambisius beberapa tahun sebelumnya. Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi mengakui target 2026 dibuat lebih realistis, yakni naik 25.000 unit menjadi 75.000 unit.
Realisasi 2025 Tergerus Fenomena Wait and See
Menurut Budi, proyeksi yang lebih tinggi sebenarnya terbuka jika pemerintah kembali menghadirkan program insentif pembelian motor listrik. Namun setiap kali wacana subsidi mengemuka, pasar justru memasuki fase wait and see.
"Kita sudah sering menghadapi situasi kayak gini. Artinya, ya sudah, yang penting kita kerja untuk bangun industri," ujarnya kepada Kompas.com, akhir pekan lalu.
Banyak calon konsumen menunda pembelian dengan harapan harga motor listrik turun setelah kebijakan baru resmi diumumkan. Siklus ini membuat pertumbuhan pasar tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya.
Populasi 130 Juta Motor Bensin Jadi Peluang Besar
Di sisi lain, potensi pasar motor listrik tetap dinilai sangat besar. Komisaris PT Sunra Asia Pacific Hi-Tech (Sunra Indonesia) Ismeth Wibowo menyebut, jumlah pengguna motor bensin di Indonesia mencapai sekitar 130 juta unit.
"Jumlah itulah yang menarik kami dari Sunra untuk berinvestasi di Indonesia. Karena menurut orang, angka itu angka yang seksi," kata Ismeth.
Ia menambahkan, besarnya populasi motor konvensional menjadi peluang substitusi massal. Dengan impor bahan bakar minyak nasional yang mencapai Rp 400 triliun per tahun, semakin banyak masyarakat beralih ke motor listrik berarti penghematan signifikan bagi APBN.
Sunra Incar Penjualan Sebanyak Mungkin Tanpa Target Spesifik
Meski optimistis, Ismeth enggan menyebut capaian penjualan Sunra di Indonesia. Perusahaan hanya menargetkan "sebanyak-banyaknya". Ia menekankan komitmen investasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar angka tahunan.
Pernyataan itu kontras dengan proyeksi Aismoli yang lebih konservatif. Budi menegaskan, tanpa kepastian insentif, target 75.000 unit pun perlu diupayakan keras. "Kita kerja untuk bangun industri — itu yang utama," ujarnya.
Dengan populasi motor bensin 130 juta unit dan penghematan BBM yang potensial, Indonesia sejatinya punya fondasi kuat untuk akselerasi elektrifikasi. Namun, pola konsumen yang terbiasa menunggu diskon menjadi batu sandungan tersendiri bagi pabrikan.