BANDUNG — Derasnya arus digitalisasi yang masuk ke ruang kelas nyatanya tidak otomatis membentuk pelajar yang berkarakter. Pakar pendidikan menilai, tanpa pengendalian diri yang kuat, kecerdasan teknologi justru bisa menjadi celah meningkatnya perilaku menyimpang, termasuk aksi begal yang belakangan meresahkan warga Jawa Barat.
A. Rusdiana, dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026), menekankan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar mentransfer ilmu pengetahuan. Institusi pendidikan harus menjadi garda terdepan dalam membangun fondasi moral peserta didik.
AI Mempercepat Kemajuan, Karakter Menentukan Arah
"AI mempercepat kemajuan, tetapi karakter menentukan arah peradaban. Sekolah harus menjadi benteng moral untuk membangun generasi berintegritas dan bebas kriminalitas," tegas A. Rusdiana.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas fenomena meningkatnya kriminalitas jalanan yang melibatkan pelajar di sejumlah daerah. Kemajuan teknologi yang pesat dinilai belum tentu berbanding lurus dengan kesiapan mental dan emosional anak didik.
Etika Digital dan Kolaborasi Keluarga Jadi Kunci Pencegahan
Menurut A. Rusdiana, ada tiga pilar utama yang harus diperkuat secara simultan untuk menekan potensi kriminalitas di kalangan pelajar. Pertama, penanaman empati agar anak mampu merasakan dampak perbuatannya terhadap orang lain. Kedua, penguatan etika digital supaya teknologi digunakan untuk hal produktif, bukan disalahgunakan.
Ketiga, kolaborasi erat antara pihak sekolah dan keluarga. Pengawasan tidak bisa berhenti di gerbang sekolah; orang tua harus terlibat aktif memantau pergaulan dan aktivitas anak di rumah maupun di dunia maya.
"Kemajuan teknologi tidak akan membawa keberkahan apabila tidak dibangun di atas karakter yang kuat," ujarnya menambahkan.
Literasi Digital Harus Berjalan Beriringan dengan Kecerdasan Moral
Meski AI telah terbukti meningkatkan kualitas literasi digital dan efektivitas pembelajaran, A. Rusdiana mengingatkan agar hal tersebut tidak membuat para pendidik lengah. Penguatan kecerdasan moral harus berjalan beriringan dengan kecerdasan intelektual.
Ia berharap momentum meningkatnya kepedulian terhadap kasus begal ini menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor pendidikan Jawa Barat. Sekolah tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara moral dan sosial.