JAWA BARAT — Perjalanan ke Sumatra Utara tidak melulu tentang Danau Toba. Sekitar dua jam berkendara dari Kota Pematangsiantar, ada Desa Wisata Sait Buttu yang tengah bertransformasi. Kawasan ini bukan sekadar desa biasa; ia menjadi percontohan bagaimana satu wilayah bisa menghidupi dirinya dari tiga sektor sekaligus: perkebunan kopi, perlebahan madu, dan pengelolaan wisata oleh warga setempat.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Anton Pitono, menyebut desa ini punya ekosistem lengkap yang jarang ditemukan di tempat lain. "Di sini kebetulan ada sebuah ekosistem yang lengkap. Ada madu, ada kopi, kemudian Pokdarwis yang semuanya coba kami gabungkan menjadi satu sehingga menjadi tujuan wisata," ujarnya saat meninjau lokasi, Sabtu (1/8).
Daya Tarik Utama: Belajar Kopi dan Madu Langsung dari Sumbernya
Berbeda dengan destinasi wisata yang berfokus pada pemandangan, Sait Buttu menawarkan pengalaman mendalam. Pengunjung bisa menyusuri perkebunan kopi milik petani binaan, lalu melihat langsung proses penangkaran lebah madu di rumah produksi yang difasilitasi BI.Daya tarik utamanya terletak pada keterlibatan warga. Anda tidak hanya membeli produk, tetapi berinteraksi dengan petani dan pengelola yang bercerita langsung tentang proses produksi. Ini nilai jual yang sulit dicari di tempat lain: wisata edukasi rantai pasok komoditas lokal.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan
Kunjungan ke desa ini cocok untuk keluarga yang ingin memberi pengalaman berbeda pada anak-anak, atau solo traveler yang ingin riset industri lokal.- Menelusuri jalur sepeda yang dibangun di sekitar kawasan desa, dengan sepeda yang sudah disediakan pengelola.
- Belajar proses produksi madu dari kelompok perlebahan, mulai dari perawatan sarang hingga panen.
- Ngopi di tengah kebun bersama petani kopi binaan, sambil mendengar cerita pendampingan dari Bank Indonesia.
- Berinteraksi dengan Pokdarwis setempat untuk memahami pengelolaan homestay dan paket wisata.
Peran Bank Indonesia dalam Pengembangan Desa
Keterlibatan BI di desa ini bukan sekadar suntikan dana. Sejak 2020, program pendampingan berjalan melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), kemudian dilanjutkan dengan program pengembangan ekonomi daerah pada 2025. Fokusnya membangun kapasitas kelompok, bukan individu."Yang kami bangun bukan hanya individu-individu, tetapi juga kelompok. Ada kelompok madu, kelompok petani kopi, dan kelompok sadar wisata," jelas Anton.
Bantuan teknis yang diberikan cukup spesifik. Untuk sektor madu, BI memfasilitasi pembangunan rumah penangkaran, pendampingan produksi, hingga menghadirkan peneliti dari berbagai lembaga untuk memperkuat kompetensi pelaku usaha. Sementara untuk pariwisata, dibangun infrastruktur jalur sepeda dan penyediaan unit sepeda.
Perluasan Pasar dan Akses Pembiayaan
Bagi traveler yang tertarik membawa oleh-oleh, produk UMKM binaan desa ini juga rutin dipromosikan di ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) dan Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU). BI juga mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga keuangan agar akses pembiayaan lebih terbuka.Model ini dirancang agar desa wisata tidak bergantung pada satu musim atau satu pembeli. Dengan daya saing yang kuat, UMKM lokal diharapkan bisa memperluas skala usaha secara mandiri.
Cara Menuju Lokasi dan Waktu Berkunjung
Desa Wisata Sait Buttu berada di Kabupaten Simalungun, dapat diakses dari Kota Pematangsiantar dengan kendaraan pribadi atau sewa. Alternatif lain, dari Bandara Internasional Kualanamu Medan, perjalanan darat memakan waktu sekitar 3-4 jam.Untuk informasi tarif masuk, jam operasional, dan paket wisata terbaru, disarankan menghubungi Pokdarwis setempat atau Dinas Pariwisata Kabupaten Simalungun. Data tersebut tidak tercantum dalam rilis resmi, sehingga konfirmasi langsung lebih aman sebelum berangkat.
Tips Berkunjung
Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari agar bisa mengikuti aktivitas petani di kebun dan melihat proses produksi madu secara lengkap. Gunakan alas kaki yang nyaman untuk menyusuri jalur sepeda dan area perkebunan. Bawa uang tunai secukupnya karena tidak semua pelaku UMKM di desa menerima pembayaran digital.Durasi ideal untuk mengeksplorasi desa ini adalah setengah hari. Namun, jika ingin merasakan suasana desa lebih dalam, Anda bisa berkoordinasi dengan Pokdarwis untuk opsi menginap di homestay warga.