JAWA BARAT — Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 09.02 WIB, sebanyak 345 saham tercatat menguat, sementara 119 saham melemah dan 233 saham stagnan. Total volume perdagangan mencapai 1,81 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 746 miliar pada awal sesi.
Penguatan pasar kali ini terbilang merata. Sektor barang baku, keuangan, energi, barang konsumer non-primer, infrastruktur, dan perindustrian semuanya kompak menghijau. Kondisi ini menunjukkan optimisme investor domestik masih terjaga di tengah pergerakan bursa Asia yang belum seragam.
Saham LQ45 yang Paling Cepat Menguat
Di lantai bursa, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memimpin penguatan di jajaran indeks LQ45 dengan melesat 3,26 persen ke Rp 2.220 per saham. Disusul PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang naik 2,94 persen menjadi Rp 210 per saham, dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang menguat 1,98 persen ke Rp 2.060 per saham.
Namun, tidak semua saham unggulan bergerak seirama. Tekanan jual masih terlihat pada beberapa nama besar seperti PT Astra International Tbk (ASII) yang terkoreksi 0,98 persen ke Rp 5.050, dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang melemah 0,94 persen ke Rp 525. Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga turun tipis 0,39 persen ke Rp 2.530.
Bursa Asia Variatif, Nikkei Melonjak 2 Persen
Dari kawasan Asia, pergerakan indeks masih bervariasi. Nikkei 225 Jepang mencatat penguatan terbesar dengan melonjak 2,03 persen ke level 66.940,12. KOSPI Korea Selatan juga solid menguat 0,93 persen menjadi 6.316,94, disusul Hang Seng Hong Kong yang naik 0,65 persen ke 25.834,23 dan Shanghai Composite yang menguat 0,42 persen ke 3.956,48.
Di sisi lain, S&P/ASX 200 Australia justru melemah 0,47 persen ke level 9.219,70, sementara The Asia Dow turun 1,04 persen menjadi 6.311,60. Meski belum seragam, penguatan indeks utama Asia tetap menjadi angin segar bagi perdagangan saham di kawasan.
Rupiah Jadi Mata Uang Terkuat di Asia
Di pasar valuta asing, rupiah menunjukkan performa impresif. Rupiah spot dibuka di level Rp 17.810 per dollar AS, menguat 0,49 persen dibandingkan penutupan Jumat (7/8/2026) di posisi Rp 17.897 per dollar AS. Penguatan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja paling positif di kawasan Asia pada awal perdagangan.
Penguatan nilai tukar ini turut menjadi katalis positif bagi pasar keuangan domestik, memberikan ruang bagi investor untuk lebih agresif dalam mengakumulasi saham di tengah gejolak regional yang masih berlangsung.