BANDUNG — Sektor peternakan unggas di Jawa Barat kembali membuktikan dominasinya sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Berdasarkan data sementara Badan Pusat Statistik (BPS), provinsi ini mencatatkan laba perusahaan peternakan unggas tertinggi di Indonesia dengan nilai Rp 5,75 triliun sepanjang 2025.
Angka tersebut dihimpun melalui pencacahan lengkap terhadap seluruh perusahaan peternakan unggas berbadan hukum. Secara nasional, sektor ini menghasilkan total nilai produksi Rp 49,81 triliun dengan total keuntungan mencapai Rp 24,51 triliun setelah dikurangi biaya operasional sebesar Rp 25,30 triliun.
Empat Provinsi di Jawa Kuasai Posisi Teratas
Peta persebaran laba menunjukkan konsentrasi industri masih bertumpu di Pulau Jawa. Empat dari lima posisi teratas ditempati provinsi di Jawa, dengan Lampung menjadi satu-satunya wakil dari luar Jawa yang berhasil menembus jajaran teratas.
- Jawa Barat: Rp 5,75 triliun
- Jawa Timur: Rp 5,18 triliun
- Lampung: Rp 2,26 triliun
- Jawa Tengah: Rp 2,12 triliun
- Banten: Rp 1,95 triliun
Di luar lima besar, Sumatera Utara membukukan laba Rp 1,49 triliun dan Sumatera Selatan Rp 1,22 triliun. Bali mencatatkan Rp 689,88 miliar, disusul Sulawesi Selatan Rp 635,27 miliar, serta Sulawesi Utara Rp 597,16 miliar.
Mengapa Industri Unggas Jabar Begitu Menguntungkan?
Tingginya konsumsi daging ayam dan telur di dalam negeri menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor ini. Wilayah dengan akses logistik dan rantai pasok yang matang, seperti Jabar, memiliki keunggulan dalam menekan biaya distribusi dan memastikan kesinambungan produksi.
Kondisi ini membuat perusahaan peternakan unggas di Jabar mampu memaksimalkan margin keuntungan di tengah fluktuasi harga pakan dan permintaan pasar yang terus meningkat.
Intervensi Pemerintah Jaga Stabilitas Harga Pakan
Untuk menjaga keberlanjutan industri ini, pemerintah menggulirkan intervensi dari hulu hingga hilir. Kementerian Pertanian berkolaborasi dengan asosiasi industri pakan untuk menunda kenaikan harga pakan, langkah yang dinilai krusial dalam melindungi operasional peternak.
Di sisi hilir, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengawal stabilitas pasar agar harga jual di tingkat peternak tetap bergerak positif. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat margin usaha peternak sekaligus menjaga pasokan protein nasional.
Pemerataan Investasi ke Luar Jawa Jadi Pekerjaan Rumah
Meski kinerja nasional impresif, data BPS mengindikasikan kesenjangan pertumbuhan antara Jawa dan luar Jawa. Pemerintah pun didorong untuk memperluas investasi industri peternakan ke wilayah timur Indonesia guna menciptakan pemerataan ekonomi.
Langkah ini dinilai penting tidak hanya untuk meningkatkan produksi nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan memperkuat ketahanan pangan di daerah-daerah yang selama ini bergantung pada pasokan dari Pulau Jawa.