Pencarian

Klenteng Tay Kak Sie, Ikon Pecinan Semarang yang Berdiri sejak 1746: 29 Altar hingga Replika Kapal Laksamana Cheng Ho

Selasa, 18 Agustus 2026 • 00:17:01 WIB
Klenteng Tay Kak Sie, Ikon Pecinan Semarang yang Berdiri sejak 1746: 29 Altar hingga Replika Kapal Laksamana Cheng Ho
Klenteng Tay Kak Sie di Semarang menjadi tempat ibadah tertua dan terbesar di kawasan Pecinan dengan 29 altar pemujaan.

JAWA BARAT — Semarang tidak hanya dikenal dengan Lawang Sewu atau lumpia gangnya. Di jantung kawasan Pecinan, berdiri Klenteng Tay Kak Sie, tempat ibadah tertua dan terbesar di kota ini yang hingga kini masih mempertahankan keaslian arsitektur Tiongkok Selatan abad ke-19.

Berbeda dari klenteng lain di Semarang yang umumnya hanya memiliki lima patung altar, Tay Kak Sie justru memiliki 29 altar pemujaan Dewa-Dewi. Angka ini menjadikannya klenteng paling lengkap di wilayah tersebut, menarik peziarah dari berbagai daerah, terutama saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

Filosofi Feng Shui dan Arsitektur Penolak Bala

Lokasi klenteng di Gang Lombok No. 62 bukan tanpa perhitungan. Berdekatan dengan sungai yang dahulu menjadi jalur perdagangan vital Semarang, posisi ini dinilai memiliki nilai feng shui tinggi. Keunikan lain terlihat dari bentuk bangunan "tusuk sate" yang dipercaya masyarakat sebagai simbol penolak bala.

Ornamen atapnya menampilkan sepasang naga (Liong) yang memperebutkan mutiara alam semesta, melambangkan keadilan dan kekuatan. Sementara hiasan Burung Hong (Phoenix) merepresentasikan ketulusan dan kesetiaan. Detail ukiran kayu dengan sistem penyangga segitiga atau dou-gong mendominasi interior, gaya yang lazim digunakan pada bangunan era 1800-an.

Salah satu elemen yang paling menarik perhatian pengunjung adalah Sumur Langit, lubang terbuka di tengah bangunan yang difungsikan sebagai altar utama untuk bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di halaman depan, replika kapal Laksamana Zheng He (Cheng Ho) berdiri kokoh, mengingatkan pada sejarah maritim Tionghoa-Indonesia.

Revitalisasi Pecinan dan Daya Tarik Kuliner

Pemerintah Kota Semarang menjadikan Tay Kak Sie sebagai embrio revitalisasi kawasan Pecinan. Program ini membenahi infrastruktur sekitar tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat, sekaligus menata kawasan agar lebih ramah peziarah dan wisatawan.

Bagi yang datang berkunjung, satu hal yang sayang dilewatkan adalah Lumpia Gang Lombok yang legendaris, lokasinya tepat di dekat pintu masuk klenteng. Kombinasi wisata religi dan kuliner ini membuat kawasan tersebut ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan.

Perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh menjadi puncak keramaian. Serangkaian upacara digelar khidmat, mulai dari pembersihan patung (rupang) hingga sembahyang menyambut tahun baru, menghadirkan pengalaman budaya yang utuh bagi generasi muda dan wisatawan mancanegara.

Keberadaan Tay Kak Sie membuktikan bahwa toleransi dan kesadaran spiritual dapat berjalan beriringan dengan dinamika kota metropolitan. Di tengah modernisasi Semarang, klenteng ini tetap menjadi penanda sejarah yang hidup, bukan sekadar bangunan tua yang terbengkalai.

Follow bumipasundan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: harapanrakyat.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks