BOGOR — Ritual penyucian diri khas Bali, melukat, kini menjelma menjadi primadona baru bagi wisatawan muda dari kota-kota besar. Fenomena ini tak hanya dibaca sebagai tren liburan semata, melainkan cerminan kebutuhan psikologis masyarakat modern yang haus akan ruang refleksi di tengah rutinitas yang kompetitif.
Sosiolog IPB University, Dr Ivanovich Agusta, mengamati pergeseran makna ini secara saksama. Menurutnya, ritual yang awalnya murni religius kini berkelindan dengan dinamika gaya hidup urban.
“Ritual yang pada mulanya bersifat religius kini menjadi ruang perjumpaan antara kebutuhan psikologis masyarakat modern, dinamika media sosial, dan industri pariwisata,” ujar Ivanovich dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Selasa (14/1).
Bukan Sekadar Liburan, Melainkan Kebutuhan akan Makna
Ivanovich menjelaskan, masyarakat urban hidup dengan ritme yang serba cepat dan penuh tekanan. Kondisi ini mendorong pencarian aktivitas yang mampu memberikan ketenangan sekaligus menjadi sarana introspeksi diri.
Melukat, yang merupakan penyucian diri secara sekala dan niskala menggunakan air suci, dinilai menawarkan hal tersebut. Wisatawan tidak lagi cukup dengan destinasi berfoto, tetapi menginginkan pengalaman yang personal dan transformatif.
“Melukat menawarkan suasana alam yang tenang, simbol penyucian, serta narasi tentang melepaskan beban dan memulai kembali,” jelasnya.
Media Sosial dan Fenomena Hyperreality
Popularitas melukat tidak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial. Unggahan para selebritas, influencer, dan pengguna lain membentuk social proof yang membuat ritual ini semakin menarik untuk dicoba.
Konten visual yang indah dan testimoni pengalaman pribadi menyebar cepat, membentuk apa yang disebut Ivanovich sebagai hyperreality. Dalam kondisi ini, citra visual sebuah ritual justru lebih dikenal dibandingkan makna sakral yang melatarbelakanginya.
“Ada orang yang datang untuk refleksi diri, tetapi ada pula yang pertama kali mengenal melukat melalui unggahan selebriti, influencer, atau teman di media sosial,” katanya.
Momen Refleksi yang Otentik di Tengah Tren
Meski datang karena tren, Ivanovich mengingatkan agar tidak semua wisatawan dinilai dangkal. Justru, momen tersebut bisa menjadi pintu masuk bagi pengalaman spiritual yang lebih dalam.
“Seseorang bisa mengenal melukat melalui media sosial, datang karena tren, tetapi kemudian memperoleh pengalaman reflektif yang sungguh-sungguh,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai peningkatan minat ini perlu diimbangi dengan pemahaman yang benar. Menghormati tata cara dan nilai spiritual yang berlaku adalah kunci agar esensi melukat tidak tergerus arus komersialisasi.
“Yang terpenting bukan membatasi wisatawan, melainkan memastikan mereka memahami makna ritual, menghormati tata cara yang berlaku, serta mengikuti arahan masyarakat adat dan pemangku agar nilai spiritual dan budaya melukat tetap terjaga,” pungkasnya.