MAJALENGKA — Tidak ada pembubaran atau intimidasi dalam nonton bareng (nobar) film 'Pesta Babi' yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Majalengka bersama Komunitas Pancaloka. Kegiatan yang berlangsung di ruang publik itu justru menjadi ruang diskusi tentang realitas Papua hingga kekhawatiran alih fungsi lahan di Majalengka.
Presiden BEM Universitas Majalengka, Nendi Nurdiana, mengatakan kondusifitas acara tidak lepas dari komunikasi intensif dengan pihak terkait sebelum kegiatan. "Kalau soal komunikasi ataupun koordinasi kita tentu, mungkin saja faktor perpindahan waktu dan tempat. Semula itu kita (akan) dilaksanakan di kampus Universitas Majalengka, namun akhirnya dilaksanakan di angkringan di sekitaran Munjul," katanya saat diwawancarai detikJabar.
Fokus pada Diskusi, Bukan Provokasi
Nendi menegaskan tujuan kegiatan bukan untuk hal negatif, melainkan membuka wawasan mahasiswa dan masyarakat. "Tujuan daripada nonton bersama ini bukan untuk hal-hal yang negatif, tapi ke hal-hal yang positif untuk bagaimana mahasiswa Majalengka, masyarakat Majalengka ini mengetahui realitas yang ada di Papua," ujarnya.
Ia menambahkan, pemutaran sengaja digelar di ruang publik agar bisa diakses lebih luas. "Karena kami menilai bahwasanya dalam persoalan ini publik harus mengetahui. Karena ini bukan hanya segmentasi daripada mahasiswa saja, namun juga harus direfleksikan oleh masyarakat Majalengka dan masyarakat luas di Indonesia," jelas Nendi.
Pesan untuk Komunitas Lain: Jangan Takut
Nendi pun menyampaikan pesan kepada kelompok masyarakat yang ingin menggelar kegiatan serupa agar tidak resah dengan intimidasi. "Pesan untuk teman-teman yang memang ada rencana untuk melaksanakan nonton bareng ini tentunya harus disampaikan dengan baik-baik. Karena memang tujuan kita juga adalah untuk mencari insight wawasan luas," ucapnya.
Founder Komunitas Pancaloka, Muhammad Rifki Ramdoni, membenarkan bahwa sejauh ini pemutaran film dokumenter di wilayah Ciayumajakuning masih aman. "Alhamdulillah sejauh ini masih kondusif. Dari segi pengamanan kami juga sudah mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi," katanya. Pancaloka tercatat sudah tiga kali menggelar nobar film 'Pesta Babi' melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas dan kampus di Cirebon dan Majalengka.
Kekhawatiran Alih Fungsi Lahan di Majalengka
Dalam diskusi usai pemutaran, isu yang paling banyak disorot peserta adalah dampak proyek strategis nasional terhadap lingkungan. Nendi menilai film tersebut menggambarkan realitas sosial di Papua, terutama terkait masyarakat adat dan persoalan lingkungan. "Kami menilai dan mengkhawatirkan itu, khawatirnya dengan adanya proyek strategis ini akan memperburuk apa namanya alih fungsi lahan yang ada di Kabupaten Majalengka," ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah tetap memperhatikan keberadaan lahan pertanian yang dilindungi dalam menjalankan pembangunan. "Kami harapkan dari mahasiswa bahwa dalam mengelola proyek strategis atau bahkan untuk industri itu sendiri harapannya adalah tidak terlalu banyak memakan lahan sawah yang dilindungi," tutup Nendi.