JAWA BARAT — Sebanyak 200 paket sembako dibagikan langsung oleh jajaran Polres Metro Jakarta Pusat kepada warga terdampak kebakaran di Pasar Jiung, Kemayoran, pada Rabu (19/3). Bantuan berupa beras, minyak goreng, gula, dan mi instan itu merupakan respons awal kepolisian terhadap kebutuhan dasar para pengungsi yang masih bertahan di tenda-tenda darurat.
"Kami sangat bersyukur. Setidaknya untuk beberapa hari ke depan, perut kami bisa terisi," ujar Siti (45), salah seorang warga yang rumahnya ludes terbakar, saat menerima bantuan di lokasi pengungsian.
Bantuan Sembako Baru Langkah Awal, Bedah Rumah Jadi Prioritas
Di balik rasa syukur atas bantuan sembako, warga menyimpan harapan yang lebih besar: program bedah rumah. Mereka berharap Polri, melalui program Bhayangkara Peduli, bisa turun tangan membangun kembali hunian yang rata dengan tanah.
"Kami butuh lebih dari sekadar makanan. Rumah adalah tempat kami memulai hidup lagi. Kami sangat berharap ada kelanjutan, bukan hanya bantuan sekali ini," kata Siti menambahkan.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol. Susatyo Purnomo Condro, mengakui bahwa bantuan sembako baru tahap awal. Pihaknya tengah mendata kerusakan dan jumlah kepala keluarga yang terdampak untuk merancang skema bantuan pemulihan tempat tinggal.
Api Melalap 50 Rumah, Ratusan Jiwa Mengungsi
Kebakaran yang terjadi pada Senin (17/3) dini hari itu menghanguskan sekitar 50 bangunan di kawasan padat penduduk. Tidak ada korban jiwa, namun lebih dari 200 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi penampungan sementara yang didirikan di lapangan dekat lokasi kebakaran.
Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak kepolisian dan pemadam kebakaran. Dugaan sementara, api berasal dari korsleting listrik di salah satu rumah warga dan dengan cepat merembet ke bangunan lain yang terbuat dari material kayu.
Peran Polri di Luar Tugas Keamanan
Penyaluran bantuan ini menjadi contoh peran Polri yang tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga hadir dalam situasi kemanusiaan. Program serupa sebelumnya telah dilakukan di sejumlah daerah bencana, seperti banjir di Jakarta Selatan dan longsor di Bogor.
Namun, warga berharap respons ini tidak berhenti pada distribusi sembako. Mereka menginginkan adanya kepastian kapan program bedah rumah akan dimulai, mengingat sebagian besar dari mereka tidak memiliki tabungan untuk membangun ulang rumah dari nol.
"Kami hanya ingin pulang. Tidur di tenda tidak enak, apalagi kalau hujan. Semoga bapak-bapak dari Polri dan pemkot cepat turun tangan," tutup Siti.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah kota Jakarta Pusat masih melakukan asesmen untuk menentukan skema relokasi atau rekonstruksi di lokasi yang sama. Polri berjanji akan mengoordinasikan bantuan lanjutan dengan dinas sosial dan badan penanggulangan bencana daerah.