JAWA BARAT — Kenaikan sebesar 25 basis poin dari posisi sebelumnya 0,75 persen ini merupakan yang pertama sejak Desember tahun lalu. Setelah tiga kali pertemuan berturut-turut tanpa perubahan, dewan kebijakan BOJ akhirnya memutuskan untuk melanjutkan normalisasi moneter, mengakhiri lebih dari satu dekade kebijakan pelonggaran tidak konvensional yang resmi berakhir pada Maret 2024.
Inflasi dan Tekanan Yen Jadi Pemicu Utama Kenaikan
BOJ memperingatkan risiko inflasi dasar yang berpotensi melampaui target 2 persen. Kenaikan harga minyak mentah dinilai mendorong perusahaan menaikkan harga di tingkat antarbisnis, yang pada akhirnya membebani konsumen. Data terbaru menunjukkan harga grosir Jepang pada Mei melonjak 6,3 persen year-on-year, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
Di sisi lain, pelemahan yen menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Pada perdagangan Selasa sore di Tokyo, dolar AS bertengger di atas 160 yen—titik yang sebelumnya memicu intervensi langsung otoritas keuangan Jepang di pasar valuta asing. “Kami tidak menargetkan tingkat nilai tukar tertentu dalam menjalankan kebijakan moneter. Namun, pergerakan mata uang memiliki pengaruh penting terhadap perkembangan ekonomi dan harga,” ujar Wakil Gubernur BOJ Shinichi Uchida, dikutip dari Kyodo News.
Keputusan Tidak Bulat, Satu Anggota Dewan Menolak
Kenaikan suku bunga ini tidak disepakati secara aklamasi. Dari delapan anggota dewan kebijakan yang membahas perubahan tanpa kehadiran Gubernur Kazuo Ueda—yang sedang menjalani perawatan akibat infeksi kista hati—hanya Toichiro Asada yang menyatakan penolakan. Asada, yang baru bergabung pada April lalu, dikenal sebagai pendukung kebijakan reflasi yang mendorong pelonggaran moneter lebih agresif untuk memicu kenaikan harga.
Uchida memastikan kondisi Gubernur Ueda bersifat sementara dan tidak akan memengaruhi arah kebijakan. Rapat dua hari itu sendiri dipimpin oleh Wakil Gubernur Ryozo Himino.
Pengurangan Pembelian Obligasi Dihentikan Sementara Mulai 2027
Dalam kebijakan lain, BOJ memutuskan menghentikan sementara rencana pengurangan pembelian obligasi pemerintah Jepang (JGB) mulai tahun fiskal 2027 yang dimulai April mendatang. Untuk sisa tahun fiskal ini, BOJ tetap melanjutkan pengurangan sekitar 200 miliar yen per kuartal. Dengan skema tersebut, pembelian obligasi diperkirakan mencapai 2,1 triliun yen (sekitar 13 miliar dolar AS) per bulan pada kuartal terakhir tahun fiskal 2026.
Mulai April 2027, BOJ tidak lagi mengurangi pembelian dan akan mempertahankan volume sekitar 2 triliun yen per bulan demi menjaga stabilitas pasar obligasi. Langkah ini memberi sinyal bahwa bank sentral tetap hati-hati dalam menarik likuiditas berlebih dari pasar.
Risiko Global Masih Membayangi, Pemerintah Jepang Siapkan Jaring Pengaman
Meski menaikkan suku bunga, BOJ menilai kondisi keuangan domestik masih mendukung aktivitas ekonomi. Keputusan ini didukung oleh berkurangnya risiko pasokan energi setelah pemerintah Jepang mengamankan sumber bahan baku alternatif di luar kawasan Timur Tengah. Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran turut dinilai sebagai perkembangan positif.
Namun, ketidakpastian tetap tinggi. Inflasi konsumen inti diperkirakan masih tertahan oleh subsidi pemerintah untuk listrik, gas, dan bahan bakar minyak. Para analis yang dikutip Kyodo News memperingatkan, begitu subsidi dicabut, tekanan harga bisa kembali melonjak dan memaksa BOJ untuk bergerak lebih agresif lagi.