BANDUNG — Piala Dunia yang kini menjadi ajang olahraga paling bergengsi di dunia lahir dari kenekatan Uruguay. Negara kecil di Amerika Selatan itu mengajukan diri menjadi tuan rumah saat dunia masih terpuruk akibat krisis ekonomi 1929. Mereka bahkan bersedia menanggung biaya akomodasi seluruh peserta dan membangun stadion raksasa Estadio Centenario berkapasitas 90 ribu penonton.
Mengapa Hanya 13 Tim yang Berpartisipasi?
FIFA mengirimkan undangan pada Februari 1930, namun hingga Juni hanya empat negara Eropa yang mendaftar: Prancis, Belgia, Yugoslavia, dan Rumania. Klub-klub Eropa menolak melepas pemain karena perjalanan kapal laut ke Montevideo memakan waktu dua minggu pulang-pergi. Inggris bahkan sedang ngambek dan telah keluar dari FIFA sejak 1928.
Presiden FIFA Jules Rimet harus turun tangan melobi langsung agar negara-negara Eropa mau berpartisipasi. Keempat tim itu akhirnya berlayar bersama dengan kapal SS Conte Verde dari Prancis, menjemput Brasil di Rio de Janeiro di tengah perjalanan. Kapal itu disebut-sebut sebagai bahtera Nabi Nuh versi sepak bola.
Gol Pertama dan Hattrick yang Baru Diakui 76 Tahun Kemudian
Laga pembuka antara Prancis melawan Meksiko pada 13 Juli 1930 terpaksa digelar di Stadion Pocitos karena Estadio Centenario belum rampung akibat hujan terus-menerus. Di stadion kecil itulah Lucien Laurent mencetak gol pertama dalam sejarah Piala Dunia pada menit ke-19.
Hattrick pertama justru dicetak oleh pemain Amerika Serikat, Bert Patenaude, saat melawan Paraguay. FIFA baru mengakui catatan itu secara resmi pada tahun 2006 — terlambat 76 tahun. Format turnamen juga masih kacau: 13 tim dibagi empat grup, dengan satu grup berisi empat tim dan sisanya tiga tim. Juara grup langsung melaju ke semifinal tanpa ada perebutan tempat ketiga.
Final dengan Bola Bergantian dan Wasit yang Minta Jaminan Keselamatan
Final pada 30 Juli 1930 menjadi pertandingan paling dramatis. Uruguay dan Argentina tidak sepakat menggunakan bola siapa. Solusi ala kadarnya: babak pertama pakai bola Argentina, babak kedua pakai bola Uruguay. Wasit asal Belgia, John Langenus, bahkan meminta jaminan keselamatan karena khawatir tidak pulang dengan selamat dari Stadion Centenario yang dipenuhi 93.000 penonton.
Polisi harus turun tangan mengamankan jalannya pertandingan. Uruguay akhirnya menang 4-2 dan menjadi juara dunia pertama. Pemerintah Uruguay langsung menetapkan hari libur nasional keesokan harinya untuk merayakan kemenangan.
Kisah Pemain Bertangan Satu yang Jadi Pahlawan
Hector Castro, pencetak gol keempat Uruguay di final, hanya memiliki satu tangan. Tangan kanannya putus akibat kecelakaan gergaji listrik saat berusia 13 tahun. Ia dijuluki El Manco — Si Buntung — namun tendangannya dikenal paling keras di timnya.
Ada pula Ulises Saucedo dari Bolivia yang merangkap sebagai wasit dan pelatih. Ia memimpin satu pertandingan, lalu melatih tim nasional negaranya di laga lain. Rangkap jabatan yang mustahil terjadi di sepak bola modern.
Warisan yang Masih Berdiri
Estadio Centenario kini masih berdiri di Montevideo. Stadion itu menjadi saksi bahwa turnamen terbesar di dunia lahir dari ide yang dianggap mustahil: diselenggarakan negara kecil di tengah krisis, tanpa dukungan penuh Eropa, dengan stadion yang belum jadi, dan bola yang dipakai bergantian. Sebuah pengingat bahwa hal-hal besar sering dimulai dari kenekatan.