JAWA BARAT — Untuk memahami karakter dua varian Ferrari 849 Testarossa, cukup lihat pakaian jurnalis yang mengemudikannya. Rekan saya, Kyle Cheromcha, memakai balaclava dan baju balap saat menjajal versi coupe di sirkuit basah. Saya? Cukup pakai celana pendek, kaus oblong, dan topi bucket sambil melesat di jalan tebing Pulau Tenerife.
Bobot Tambahan 90 Kg, Tapi Jangan Khawatir
Varian Spider ini 198 pon atau sekitar 90 kilogram lebih berat dari coupe. Kabar baiknya, sistem atap keras lipat bisa membuka atau menutup hanya dalam 14 detik, bahkan saat melaju hingga 50 km/jam. Ferrari mengklaim Anda tidak akan merasakan perbedaan performa di jalan biasa—kecuali Anda benar-benar membawanya ke sirkuit setiap akhir pekan.
Saya setuju. Sensasi berkendara lebih penting dari sepersepuluh detik yang mungkin hilang di lintasan. Apalagi, sebagian besar pemilik Ferrari jarang, bahkan tidak pernah, membawa mobilnya ke trek balap.
Kokpit Modern dengan Sentuhan Retro
Duduk di kursi kulit merah, saya langsung merasa familiar. Tata letak kabin mirip dengan Ferrari 296, Purosangue, dan 12Cilindri. Setir baru kini dipenuhi tombol fisik—bukan haptic touch yang merepotkan. Tombol start mesin dan manettino masih terbungkus cat Rosso Corsa yang ikonik.
Fitur baru yang menarik: Anda bisa mengatur kursi melalui layar instrumen digital menggunakan D-Pad di setir. Mulai dari sandaran samping, penyangga paha, hingga lumbar support. Sistem ADAS dan fitur kenyamanan seperti ventilated seat, air scarf, dan Apple CarPlay juga lebih mudah diakses melalui OS terbaru.
Performa V8 Hybrid: 1.036 HP yang Menakutkan
Mesin 4.0 liter V8 twin-turbo hybrid ini punya turbo terbesar yang pernah dipasang di Ferrari jalan raya—50 hp lebih garang dari SF90. Sistem hybrid tiga motor (dua di depan, satu di belakang) dan baterai 7,45 kWh hanya mampu melistriki mobil sejauh 15 mil atau 24 kilometer. Di Tenerife, saya lebih memilih menggunakan bensin sepanjang tiga jam perjalanan.
Saat pedal gas diinjak penuh, tubuh langsung terhantam ke kursi. Otak berteriak, "Berhenti, ini menakutkan!" Dan benar saja, rasanya seperti pertama kali mengendarai mobil listrik dulu. Bedanya, Ferrari ini bisa diajak bermain di tikungan sempit. Masuk tikungan dengan kecepatan tinggi, mobil tidak bergeming. Seru saat menambah gas di tengah tikungan dan menyadari Anda baru menggores permukaan kemampuannya.
Suara transmisi saat berpindah gigi terdengar brutal—lebih keras dari Ferrari 296 Speciale. Saking kerasnya, saya sampai tertawa pertama kali mendengarnya.
Satu Kelemahan: Terasa Besar dan Berat
Setelah satu jam berkendara, saya menemukan satu kelemahan. Di tikungan sedang, saat setir hampir diputar maksimal, mobil terasa berat. Bukan berarti performanya buruk, tapi Anda benar-benar merasakan dimensi mobil yang besar dan lebar. Jika Anda mencari Ferrari paling lincah, lihat saja model di bawahnya seperti 296.
Untungnya, saat bosan dengan sinar matahari, saya bisa menaikkan atap sambil melaju pelan. Melihat atap keras bekerja saat mobil berjalan tetap terasa keren, seperti melihat helikopter melintas.
Masalah Sound Enhancer dan Target Pasar
Satu catatan: Ferrari memompa suara mesin ke kabin melalui speaker karena regulasi global. Untungnya, efeknya minimal dan tidak mengganggu. Suara V8 asli masih dominan, apalagi saat atap terbuka.
Pertanyaan terbesar: untuk siapa mobil ini? Jika ingin handling terbaik, beli 296 Speciale Aperta. Jika ingin Ferrari santai dan elegan, ambil 12Cilindri Spider. Jika butuh kepraktisan, Purosangue jawabannya. Lalu di mana posisi Testarossa Spider?
Saya melihat sekeliling: pulau tropis, lapangan golf eksklusif, resor bintang lima, dan helipad di mana-mana. Ah, tentu saja. Mobil ini untuk mereka yang mampu membayar Rp 9,2 miliar (estimasi dari $577.437) dan ingin pamer dengan 1.036 hp di bawah sinar matahari. Mungkin tidak paling tampan, tapi pasti paling keren.