JAWA BARAT — Lampu depan mobil modern yang menyilaukan bukan cuma keluhan pengendara di Indonesia. Di Amerika Serikat, regulator keselamatan lalu lintas NHTSA baru saja memutuskan bahwa Tesla tidak bisa lolos dari kewajiban memperbaiki lampu yang melanggar batas kecerahan. Keputusan ini keluar setelah Tesla mengajukan banding sejak musim semi 2024.
Lampu Terlalu Terang di Sudut Pandang Tertentu
Tesla berargumen bahwa kelebihan kecerahan hanya terjadi pada sudut-sudut tertentu yang disebutnya berada di luar garis pandang alami pengemudi. Pabrikan bahkan menyertakan studi internal yang menyimpulkan pengendara lain tidak akan mengalami silau atau gangguan.
Namun NHTSA membantah argumen itu. Regulator menyebut garis pandang pengemudi selalu berubah tergantung kondisi jalan, seperti saat berpapasan di tikungan, tanjakan, atau turunan. Cuaca buruk seperti hujan, salju, dan kabut juga bisa memantulkan cahaya berlebih sehingga menimbulkan veiling glare—efek silau yang menutupi pandangan.
Argumen "Tidak Ada Keluhan" Gagal Total
Tesla juga mengklaim tidak ada laporan resmi dari pemilik atau korban cedera terkait lampu ini. NHTSA menolak logika tersebut. Dalam dokumen keputusan halaman 8, tertulis: "Tidak adanya keluhan bukan berarti pengguna kendaraan tidak mengalami masalah keselamatan, dan bukan berarti tidak akan ada masalah di masa depan."
Setelah NHTSA membuka forum komentar publik, dua individu melapor langsung. Angka itu memang kecil, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa masalahnya nyata.
GM Lebih Dulu Kalah dengan Jumlah Unit Lebih Besar
Tesla bukan satu-satunya yang mencoba menghindari recall dengan dalih serupa. Pada 2022, GM mengajukan argumen yang sama untuk 725.000 unit GMC Terrain. Lampu SUV itu bahkan lebih terang dari milik Tesla. Namun NHTSA tetap menolak dan memerintahkan perbaikan.
Fakta ini menarik karena Tesla sempat menyebut kasus GM dalam dokumen bandingnya sebagai pembanding. Sayangnya, regulator tidak mengubah pendirian.
Survei: 6 dari 10 Pengemudi Mengeluhkan Silau
Laporan Reuters mengutip survei terkini yang menunjukkan 60 persen pengemudi di AS menganggap silau sebagai masalah setelah gelap. Tiga perempat responden bahkan merasa kondisi ini memburuk dalam sepuluh tahun terakhir.
Angka itu memperkuat alasan NHTSA untuk tidak menganggap remeh keluhan silau. Meski produsen otomotif terus mendorong batas teknologi pencahayaan LED, regulator menegaskan keselamatan pengguna jalan lain tidak bisa dikorbankan demi desain atau efisiensi biaya.
Apa yang Harus Dilakukan Pemilik Tesla?
Bagi pemilik Tesla Model 3 dan Model Y produksi 2017–2023 di AS, pabrikan wajib mengirimkan pemberitahuan resmi dan menyediakan perbaikan atau penggantian komponen lampu secara gratis. Prosedurnya akan diatur langsung oleh NHTSA melalui kampanye recall resmi.
Belum ada informasi apakah kasus serupa akan berdampak pada pasar Indonesia. Namun pengalaman ini menjadi pelajaran bahwa regulasi keselamatan lampu depan harus ditegakkan secara konsisten, apapun merek kendaraannya.