Pencarian

Gelisah dalam Kosong: Mahasiswa STIS Husnul Khotimah Kuningan Mengupas Paradoks Manusia dan Kefanaan Dunia dari Perspektif Islam

Kamis, 18 Juni 2026 • 12:58:01 WIB
Gelisah dalam Kosong: Mahasiswa STIS Husnul Khotimah Kuningan Mengupas Paradoks Manusia dan Kefanaan Dunia dari Perspektif Islam
Mahasiswa STIS Husnul Khotimah Kuningan membahas paradoks manusia dan kefanaan dunia dari perspektif Islam.

KUNINGAN — Manusia adalah makhluk paradoksal. Diciptakan dengan potensi sempurna, namun di dada selalu ada celah kosong yang sulit dijelaskan. Inilah tesis yang diangkat Muhammad Ghiyass, mahasiswa STIS Husnul Khotimah, dalam artikelnya berjudul "Gelisah dalam Kosong: Paradoks Manusia dan Kefanaan Dunia" yang tayang di Kuningan Mass.

Menurut Ghiyass, ironi eksistensial ini jarang diakui secara jujur. "Kita kerap menambal kekosongan itu dengan kekosongan yang lain: ramai tapi sepi, tertawa tapi hampa, dikelilingi banyak orang tapi tetap merasa sendirian," tulisnya.

Dunia sebagai Permainan yang Menipu

Ghiyass merujuk pada Q.S. Al-'Ankabut ayat 64. Ayat itu menyebut kehidupan dunia sebagai la'ib dan lahw—permainan dan senda gurau. Bukan untuk diremehkan, melainkan untuk dipahami hakikatnya. Permainan selalu menyenangkan di awal, cepat menjemukan, lalu meninggalkan kehampaan.

Ia juga mengutip Q.S. Al-Hadid ayat 20 yang menyebut kenikmatan dunia sebagai mata'ul ghurur—kesenangan yang menipu. "Kita mengejar validasi, harta, cinta manusia, lalu bertanya-tanya mengapa semua itu tak kunjung mengisi lubang di jiwa," ujarnya.

Gelisah Bukan Penyakit, Melainkan Sinyal Spiritual

Dalam pandangan Ghiyass, kegelisahan dalam kekosongan bukanlah penyakit yang harus dimusnahkan. Ia justru sinyal spiritual bahwa manusia sedang mencari tambatan yang salah. Sebab ruh manusia tidak diciptakan untuk dipuaskan oleh hal-hal yang fana.

"Selama kita mengejar bayangan, kita hanya akan mendapatkan keletihan. Tapi begitu hati berlabuh pada Yang Abadi, dunia tetap akan terasa sebagai permainan—hanya saja kita tidak lagi terperdaya olehnya," tulisnya, mengutip Q.S. An-Nahl ayat 96: "Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal."

Menerima Kefanaan sebagai Kebebasan

Ghiyass menekankan bahwa menerima kehidupan yang fana bukanlah pesimisme. Justru di sanalah letak kebebasan sejati. Ketika manusia paham bahwa kebahagiaan absolut tidak mungkin ditemukan di dunia, ia berhenti menuntut dunia memberi apa yang tak dimilikinya.

"Kita berdamai dengan kehampaan, sembari menambatkan hati pada sesuatu yang tak akan pernah sirna. Sebab hanya di sisi-Nyalah, gelisah berubah menjadi sakinah, dan segala kosong terisi dengan makna yang tak bertepi," pungkasnya.

Bagikan
Sumber: kuninganmass.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks