JAWA BARAT — Mata uang Garuda memulai pekan ini dengan tren positif setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada di level yang lebih lemah. Penguatan rupiah pagi ini sejalan dengan sejumlah mata uang Asia lainnya yang kompak bergerak di zona hijau.
Pergerakan Mata Uang Asia dan Global Bervariasi
Ringgit Malaysia menjadi pemimpin penguatan di kawasan dengan apresiasi 0,40 persen terhadap dolar AS. Peso Filipina menyusul dengan kenaikan tipis 0,06 persen. Namun, tidak semua mata uang Asia bernasib sama.
Won Korea Selatan justru menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,49 persen. Yuan China turun 0,07 persen, dolar Singapura melemah 0,06 persen, yen Jepang terkoreksi 0,02 persen, dan dolar Hong Kong turun 0,01 persen.
Di negara maju, dolar Kanada menguat 0,03 persen dan euro Eropa naik 0,01 persen. Poundsterling Inggris terpantau stabil. Sementara itu, dolar Australia melemah 0,16 persen dan franc Swiss turun 0,02 persen terhadap greenback.
Analis Peringatkan Risiko Geopolitik Timur Tengah
Di balik penguatan pagi ini, analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong justru melihat potensi pelemahan rupiah ke depan. Ia menyoroti kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor risiko utama.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring kembali terjadinya eskalasi di Timur Tengah oleh saling serang antara Iran dan AS, memicu ketidakpastian pada prospek perdamaian di kawasan dan kenaikan harga minyak mentah dunia," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Konflik yang memanas kembali berpotensi mendorong harga minyak mentah global lebih tinggi. Kenaikan harga komoditas energi ini biasanya menjadi tekanan tambahan bagi negara importir minyak seperti Indonesia, yang pada akhirnya bisa membebani nilai tukar rupiah.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan rentang perdagangan antara Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS pada sesi hari ini. Level psikologis Rp18.000 menjadi resistance terdekat yang patut diwaspadai pelaku pasar.
Investor dan pelaku bisnis disarankan mencermati perkembangan berita dari Timur Tengah serta data ekonomi AS yang dapat mempengaruhi pergerakan dolar secara global. Volatilitas diperkirakan masih akan terjadi sepanjang hari.