CIANJUR — Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur mencatat kekurangan sekitar 1.100 tenaga guru untuk jenjang SD dan SMP. Kepala Disdikpora Cianjur Ruhli Solehudin menyebut angka itu setara 10 persen dari total 11.000 guru ASN yang ada saat ini. Kekurangan terparah terjadi di sekolah-sekolah wilayah selatan Cianjur yang kehilangan dua hingga empat orang guru per sekolah.
Pensiun, Meninggal, dan Mutasi Jadi Pemicu Utama
Ruhli mengungkapkan tiga faktor dominan yang menyebabkan kekurangan guru. Pertama, banyak guru yang memasuki masa pensiun. Kedua, ada yang meninggal dunia. Ketiga, sejumlah guru pindah tugas ke daerah lain.
"Faktor yang paling tinggi karena banyak yang pensiun, meninggal dunia, atau pindah ke daerah lain, sehingga secara keseluruhan tetap memerlukan tambahan tenaga pendidik dan kependidikan," kata Ruhli di Cianjur, Selasa.
Daerah Tak Bisa Angkat Honorer, Solusi Ada di Pusat
Disdikpora Cianjur mengaku tidak bisa serta-merta mengangkat tenaga honorer untuk menambal lubang. Pengangkatan Aparatur Sipil Negara (ASN), baik PNS maupun PPPK, merupakan kewenangan penuh pemerintah pusat.
Pihaknya saat ini hanya bisa memetakan kebutuhan dan mengajukannya ke pusat. Koordinasi dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) serta Bagian Organisasi terus dilakukan untuk mempercepat proses pengajuan formasi.
"Kami tidak dapat mengangkat tenaga honorer, sedangkan di lapangan tenaga pendidik sangat dibutuhkan karena setiap waktu ada yang pensiun, meninggal dunia, dan perpindahan, sehingga ini harus ada solusi dari pemerintah di daerah hingga pusat," ujar Ruhli.
Dampak ke KBM: Kegiatan Belajar Tak Optimal
Kekurangan guru ini langsung berdampak pada kegiatan belajar mengajar (KBM) di lapangan. Ruhli mengakui optimalisasi pembelajaran tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kualitas dan mutu satuan pendidikan ikut terganggu.
Disdikpora meminta setiap satuan pendidikan untuk memberdayakan pegawai yang ada di lingkungan sekolah masing-masing. Langkah ini bersifat sementara sambil menunggu kebijakan pengangkatan ASN dari pusat.
Bukan Cuma Guru: Ribuan Ruang Kelas Juga Rusak
Persoalan pendidikan di Cianjur tak berhenti pada kekurangan tenaga pengajar. Ruhli mengungkapkan ada lebih dari seribu ruang kelas yang mengalami kerusakan. Perbaikan ruang kelas ini terhambat minimnya alokasi anggaran dari APBD setiap tahun.
Untuk menyiasatinya, Disdikpora menggali dana dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pemerintah pusat, serta perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Cianjur. Bantuan dari korporasi diharapkan bisa menyalurkan pembangunan ruang kelas baru di wilayah terdekat yang paling membutuhkan.