Pencarian

Dunia Butuh 300 Juta Ton Minyak Nabati pada 2050, Sawit Diproyeksi Kuasai 60 Persen

Senin, 24 Agustus 2026 • 10:36:01 WIB
Dunia Butuh 300 Juta Ton Minyak Nabati pada 2050, Sawit Diproyeksi Kuasai 60 Persen
Tungkot Sipayung menyampaikan proyeksi kebutuhan minyak nabati dunia mencapai 300 juta ton pada 2050 dalam acara di Jakarta, Senin (24/8).

JAWA BARAT — Proyeksi itu disampaikan Founder dan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, di Jakarta, Senin (24/8). Menurutnya, kenaikan kebutuhan minyak nabati tidak bisa dihindari. Bukan hanya untuk pangan, minyak nabati kini juga dipakai sebagai bahan biomaterial, substitusi petrokimia, hingga energi alternatif pengganti fosil.

Angka 300 juta ton pada 2050 hampir 1,4 kali lipat lebih tinggi dibanding produksi dunia tahun ini yang diperkirakan mencapai 215,6 juta ton. "Semakin bertumbuh penduduk dunia, konsumsi minyak sawit juga meningkat," ujar Tungkot.

Mengapa Sawit Lebih Unggul dari Kedelai dan Rapeseed?

Pertumbuhan penduduk yang pesat membuat permintaan minyak nabati melonjak, tetapi di sisi lain sumber-sumber lain justru mentok. Tungkot menjelaskan, produksi minyak kedelai, rapeseed, dan bunga matahari akan menghadapi keterbatasan produktivitas dan lahan di masa depan.

Perbandingannya cukup mencolok. Tanaman kedelai tahun ini menguasai lahan sekitar 143,8 juta hektare dengan kontribusi 32,8 persen terhadap produksi minyak nabati dunia. Rapeseed menempati 43,8 juta hektare dengan kontribusi 16,5 persen, dan bunga matahari 29,5 juta hektare dengan kontribusi 9,3 persen.

Sementara itu, kelapa sawit hanya memakai lahan sekitar 29 juta hektare—jauh lebih kecil—tetapi mampu menyumbang 41,4 persen produksi minyak nabati utama dunia. "Diperkirakan pada tahun 2050 mendatang sekitar 60 persen kebutuhan minyak nabati dunia akan berasal dari minyak sawit," tegasnya.

Produktivitas menjadi kunci. Sawit bisa menghasilkan delapan hingga sepuluh kali lipat lebih tinggi dibanding sumber minyak nabati lain. Potensi peningkatannya pun masih terbuka lebar, hingga 50-100 persen dari capaian sekarang, lewat perbaikan praktik perkebunan dan inovasi teknologi. "Potensi minyak nabati lain sudah hampir mentok kecuali rapeseed atau kanola yang masih bisa meningkat sedikit meski jauh lebih rendah dari sawit," kata Tungkot.

Dampak ke Petani dan Harga Minyak Goreng Dunia

Keunggulan sawit tidak berhenti di produktivitas. Pasokannya stabil sepanjang tahun dan harganya kompetitif, sehingga berperan besar menyediakan minyak nabati terjangkau bagi negara-negara berpendapatan rendah.

Dari sisi sosial, sekitar 42 persen perkebunan sawit dikelola petani rakyat. Industri ini juga menyerap jutaan unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sepanjang rantai pasok, dari hulu hingga hilir. "Jadi, minyak sawit lebih sustainable secara ekonomi, sosial, dan ekologis dibandingkan minyak nabati lain," ujarnya.

Replanting Jadi Kunci Ganda Produktivitas

Agar mampu memenuhi lonjakan permintaan, Tungkot mendorong dua strategi utama. Pertama, peningkatan produktivitas menyeluruh lewat peremajaan tanaman (replanting) dengan varietas unggul dan praktik perkebunan terbaik. Kedua, peningkatan parsial pada kebun eksisting melalui penerapan good agricultural practices (GAP), inovasi teknologi budidaya dan pemanenan, serta efisiensi pengolahan di pabrik.

"Kombinasi kedua strategi tersebut akan mengantar produktivitas sawit meningkat dua kali lipat," sebutnya.

Pemerintah sendiri telah menjalankan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Program ini menjadi kunci untuk menaikkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan industri sawit nasional. "Dengan peningkatan produktivitas yang demikian, Indonesia dan produsen minyak sawit dunia lain dapat menyediakan minyak sawit untuk kebutuhan masyarakat dunia," pungkas Tungkot.

Follow bumipasundan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: voi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks