JAWA BARAT — Kebijakan baru dari pemerintah membuat banyak orang tua harus lebih teliti soal kelengkapan imunisasi buah hati. Sebelum anak melangkah ke jenjang prasekolah atau kelas satu sekolah dasar, ada satu hal penting yang perlu diperiksa: catatan vaksinasi. Peninjauan riwayat imunisasi ini bukan untuk mempersulit pendaftaran, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan anak di lingkungan sekolah.
Apa Isi Aturan Baru Imunisasi Wajib?
Aturan ini tertuang dalam Keputusan Pemerintah Nomor 165/2026/ND-CP, yang merupakan panduan pelaksanaan Undang-Undang Pencegahan Penyakit. Berdasarkan aturan tersebut, lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk meninjau riwayat vaksinasi seluruh siswa baru. Sekolah akan berkoordinasi dengan pos kesehatan tingkat kecamatan untuk merencanakan dan melaksanakan program imunisasi lanjutan.
Ibu Nguyen Thi Nhu Thuy dari Kelurahan Gia Dinh, Kota Ho Chi Minh, mengaku sempat terkejut saat menerima pesan dari pusat vaksinasi tempat anaknya diimunisasi. Pesan itu mengingatkan untuk meninjau ulang riwayat vaksinasi sang buah hati sebelum masuk kelas satu. Setelah mencari tahu, ia memahami bahwa kebijakan ini bertujuan memastikan tidak ada dosis vaksin yang terlewat dari Program Imunisasi yang Diperluas.
14 Penyakit yang Ditanggung Imunisasi Dasar
Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 13/2026/TT-BYT yang mengatur kegiatan vaksinasi. Dalam Pasal 3 surat edaran tersebut, tercantum daftar penyakit yang memerlukan vaksin dalam Program Imunisasi yang Diperluas, mencakup 14 jenis penyakit.
Selain vaksin yang sudah lama dikenal seperti hepatitis B, tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, dan polio, daftar ini kini mencakup vaksin tambahan. Beberapa di antaranya adalah vaksin untuk penyakit pneumokokus, diare rotavirus, dan HPV. Vaksin campak, rubella, ensefalitis Jepang, serta penyakit Haemophilus influenzae tipe b juga tetap masuk dalam daftar.
Namun, tidak semua anak prasekolah atau sekolah dasar harus menerima seluruh vaksin tersebut sekaligus. Jadwal pemberian imunisasi disesuaikan dengan kelompok usia, kelompok sasaran, dan pedoman dari Kementerian Kesehatan.
Cara Cek Kelengkapan Vaksin Anak
Langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah memeriksa catatan vaksinasi anak secara proaktif. Catatan ini bisa berbentuk buku imunisasi kertas atau aplikasi catatan kesehatan elektronik. Dengan memeriksa dokumen tersebut, orang tua bisa memverifikasi vaksin mana yang sudah lengkap dan mana yang masih kurang.
Penting untuk dipahami, peninjauan riwayat vaksinasi ini semata-mata untuk perawatan dan perlindungan kesehatan di sekolah. Kebijakan ini bukan hambatan administratif atau syarat yang mempersulit proses pendaftaran anak.
Yang Perlu Dilakukan Jika Ada Vaksin Terlewat
Apabila hasil peninjauan menunjukkan ada vaksin yang belum diberikan sesuai usia, orang tua tidak perlu panik. Vaksin yang termasuk dalam Program Imunisasi yang Diperluas didanai oleh negara dan diberikan secara gratis di pos kesehatan komune, kelurahan, dan zona khusus di seluruh negeri.
Orang tua bisa membawa anak ke fasilitas kesehatan setempat untuk konsultasi dan vaksinasi susulan sesuai pedoman sektor kesehatan. Vaksin yang termasuk dalam program tersebut tidak dipungut biaya.
Selama proses ini, orang tua perlu bekerja sama dan mengikuti instruksi resmi dari administrasi sekolah dan pusat kesehatan setempat. Gunakan sumber informasi yang dapat diandalkan untuk menghindari jebakan tautan mencurigakan yang meminta data pribadi.