Laporan dari jurnalis game PC Gamer yang melakukan investigasi terhadap katalog Steam periode 9-14 Juni 2024 mengungkap fakta mencolok. Dari total 338 judul baru yang dirilis, lebih dari sepertiganya—tepatnya 120 game—memiliki label pengakuan AI. Angka ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi generatif di industri game bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan telah menjadi strategi produksi massal.
Game "Menyamar" Karya AI yang Dijual Ratusan Dolar
Salah satu temuan paling kontroversial adalah visual novel berjudul Android Who Dreams of Stars dari pengembang JinCycle. Game ini mengklaim menggunakan AI untuk hampir seluruh elemennya: dari gambar, suara, cerita, lokalisasi, hingga aset toko. Ironisnya, trailer game tersebut bahkan masih menyertakan efek suara screenshot Steam yang keliru—sebuah tanda rendahnya kontrol kualitas.
Yang lebih mencengangkan, sejumlah pengembang berani memasang harga selangit untuk game buatan AI. Kryonull dari NovelkaGames dijual seharga $100 (sekitar Rp1,6 juta), memicu spekulasi di forum Steam bahwa game tersebut hanyalah alat pencucian uang. Praktik ini bukan barang baru: pengembang SmogGames telah merilis Typical NPC seharga $100 pada Mei lalu, disusul After the Hero pada 13 Juni dengan harga yang sama.
Label AI: Antara Kejujuran dan Pembelaan Diri
Steam mewajibkan pengembang untuk mendeklarasikan penggunaan AI melalui kotak pengungkapan khusus. Namun, implementasinya di lapangan sangat beragam. Beberapa pengembang menggunakannya untuk aset toko seperti gambar kapsul—yang menurut jurnalis PC Gamer, "selalu langsung terlihat" palsu. Ada pula yang mengaku hanya menggunakan AI sebagai referensi seni, bukan di dalam game itu sendiri, seperti yang dilakukan pengembang Underwater.
Menariknya, kotak pengungkapan ini juga menjadi ruang pembelaan. Pengembang Kamilia bersikukuh bahwa "kurang dari 1%" konten game mereka dibuat dengan AI. Sementara pembuat Idlemoor menulis dengan nada defensif: "Gambar logo di toko dihasilkan AI. Ini memungkinkan saya fokus membuat game sebenarnya, karena saya bukan seniman."
Dampak pada Industri: Pekerja Manusia Terancam?
Yang paling mengkhawatirkan dari temuan ini bukan sekadar maraknya game murahan. Jurnalis PC Gamer mencatat bahwa penggunaan AI untuk musik, tekstur, dan narasi dalam game dinilai "lebih keterlaluan" dibandingkan sekadar untuk terjemahan atau gambar toko. Jika AI sudah bisa menggantikan penulis naskah, komposer, dan ilustrator dalam skala besar, maka masa depan pekerja kreatif di industri game Indonesia juga patut dipertanyakan.
Fenomena ini juga melahirkan kategori baru: game yang tidak dirancang untuk dimainkan. Dengan harga $100 dan kualitas yang buruk, para pengamat menduga model bisnisnya bukanlah penjualan unit, melainkan praktik lain yang tidak transparan. Satu hal yang pasti: "slopscape" atau lanskap game sampah ini terus meluas, dan Steam sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda akan memperketat aturannya.